"Pemberian apresiasi ini didasarkan karena kepedulian melestarikan warisan dokumenter yang pada hakekatnya mempunyai nilai luar biasa yang tak terhingga nilainya bagi pembangunan karakter bangsa, semangat untuk menarasikan dokumen yang dijadikan semangat pembangunan nasionalisme, patriotisme dan mengumpulkan bukti dokumen NKRI," sambut Kandar.
Kandar juga menyampaikan kalau amnesia pada manusia itu ngeri, tapi amnesia pada manusia masih bisa diperbaiki, tapi amnesia permanen bukti sejarah hilang dan musnah tidak bisa diapa-apakan lagi, untuk itulah kita harus menyelamatkannya.
Arsip atau dokumenter masih banyak diluar Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia, yaitu pada perorangan, tokoh-tokoh dan lembaga, seiring waktu dikoleksi sampai rusak karena tidak terawat.
1. Kerjasama pameran bersama antara Yayasan Warisan Tokoh Bangsa dan ANRI.
2. Digitalisasi klise yang diluar kapasitas alat milik Wintoba
3. Direncanakan MOU, nota kesepahaman demi kepentingan bersama untuk Bangsa dan Negara.
Saat ini ANRI memiliki pusat studi kebangsaan dan pusat studi ke presidenan. Beralamat Kantor di gedung arsip nasional di Jalan Gajah Mada Jakarta, yang dijadikan tempat pameran tetap pameran presiden bung Karno.
Yayasan Wintoba akan mengadakan roadshow pameran foto sejarah dan klisenya bekerjasama dengan ANRI. Thema yang diusung 'Hitam Putih dalam Balut Merah Putih', Rencananya akan mengajak Sekretaris Negara untuk berkolaborasi / bersinergi dalam pameran ini.
Proses kolektif memori bangsa tujuannya menyelamatkan bukti sejarah.
Proses registrasi memori kolektif bangsa yaitu arsip yg mempunyai nilai signifikasi nasional, harus diregistrasi dan diberikan penghargaan bagi masyarakat yang memenuhi syarat.
Yayasan Warisan Tokoh Bangsa, didirikan bertujuan untuk menyelamatkan, merawat dan meneruskan warisan tokoh bangsa " JASMERAH > Jangan sekali kali melupakan sejarah.
"Kami memiliki ratusan ribu bukti sejarah, yang akan kami selamatkan. Kesulitan merawat dokumen sejarah sangat tergantung media dan dibutuhkan biaya yang sangat besar. Berbeda media maka berbeda penanganan, suhu ruangan yang digunakan terhadap benda dokumentasi itu," terang Binton Nadapdap.
Menurut riset survey dunia Internasional, player audio visual akan hilang atau jarang ada di tahun 2025, karena tidak diproduksi lagi, maka bukti sejarah, wajib segera didigitalisasi karena alatnya langka dan mahal.
Selamat dan tetap semangat merawat sejarah.
(Red/Ws)