Sejarah dan Silsilah Kesultanan Tidore

WartaOne – Tidore adalah sebuah pulau bergunung api di gugusan utara kepualuan Maluku. Pulau Tidore dahulu dikenal dengan sebutan “Kie Duko” atau gunung berapi Sebab saat itu masih aktif. Ketika Islam masuk, di Maluku, Kie Duko berubah nama menjadi “To Ado re atau (Thadore /Tidore)” yang merupakan nama tanda perdamaian antara penguasa pribumi pasca perang akbar (Antar penguasa di Maluku Utara) di tahun 846 Masehi.

Maluku saat itu dikenal dengan daerah yang penuh peperangan lokal (Perebutan wilayah) antara pribumi hingga akhirnya seorang ulama asal iraq bernama Syekh Yakub harus turun tangan dalam mendamaikan perang tersebut.

Dalam sejarahnya, Syeh Yaqub merupakan adalah utusan (Duta) Kerajaan Abbasyiah (era kekhalifahan Al-Muttawakil 847-946 Masehi) untuk tugas ekspansi perdagangan di maluku. Syeh Yaqub adalah tokoh penting dalam perundingan Togorebo (Nama tempat yang dijadikan nama perundingan) di sebuah wilayah dekat kaki gunung kie duko bernama Marijang (Sekarang dikenal dengan nama Kie Matubu).

SHAHJATI Merintis Kerajaan.

Tidore menjadi kerajaan setelah seorang keturunan ulama Arab dari hasil perkawinannya dengan salah satu putri penguasa pribumi bernama Jou Boki Nursafa melahirkan seorang laki-laki bernama Shahjati yang kelak mendirikan kerajaan Tidore.

RESTORASI ISLAM era CIRILIATI

Keturunan Shahjati  bernama Ciriliyati (1495-1512) sukses mentranformasikan kerajaan Tidore menjadi kerajaan Islam hingga beliau sepakat mengganti gelar Kolano (Gelar raja bagi kepemimpinan kerajaan Tidore) menjadi Sultan dengan yang memberinya nama Islam yakni Djamaluddin.

Tidore adalah salah satu kerajaan Islam tertua di Indonesia yang terletak di utara kepulauan Maluku (Prop. Maluku Utara). Berbatasan dengan pulau Ternate dan Pulau Halmahera.

TIDORE DAN KONFEDERASI MOLOKU KIERAHA

Kesultanan Tidore pula merupakan anggota dari Konfederasi MOLOKU KIERAHA (Persekutuan 4 kerajaan besar ; Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) yang dideklarasikan dalam konferensi MOTI / “MOTI Veerbond” pada tahun 1322) Moloku Kie Raha akhirnya diakui kedaulatan konfederasinya oleh Aliansi Kerajaan Islam Nusantara (Melayu, Demak, Mataram, Gowa-Tallo, Banggai, Bima, Hitu dll). Kerajaan Tidore sendiri berdiri tidaklah jelas, namun para ahli mengemukakan kepemimpinan Tidore (Secara pribumi) sudah cukup lama.

PASCA KEPERGIAN SYEH YAQUB

Kedatangan kembali seorang musafir barat jauh (Arab) bernama Maulana Maghribi Jaffar Ash Sadiq pada hari Senin 10 Muharam 470 Hijriah atau 1077 M.

Para penduduk pribumi memanggilnya dengan sebutan “Jafar sadiq / Jafar No”. Tercatat Jafar No meminang seorang putri Momole (Penguasa pribumi) bernama Jou Boki Nursafa, darinya mereka melahirkan keempat (4) orang putri dan ke (4) empat orang putra.

MEWARISI KEKUASAAN PARA LELUHUR

Sepeninggal Jafar No, keempat putranya mewarisi kekuasaan kakek-kakeknya (keluarga dari ibu). Hal ini karna kakeknya (dari ibu) merupakan penguasa saat itu. Sang kakek selalu memanggil mereka dengan panggilan “Dano” alias cucu. Kerap panggilan tersebut kelak menjadi gelar bangsawan bagi mereka para keturunan Boki Nursafa hingga kini. Keempat putera mereka melanjutkan kekuasaan leluhur mereka di setiap daerah Moloku Kieraha (Gamlamo, Kie Gapi, Bacan, Jailolo). Sedang keempat putrinya mengikuti jejak ayahnya membentuk kekuasaan di Banggai (Yang nantinya melahirkan kerajaan-kerajaan di banggai dan sekitarnya, Sulawesi Tenggara).

beberapa sultan copy

SILSILAH KEPEMIMPINAN

Merupakan daerah yang memiliki kepemimpinan absolut atas daerahnya. Dahulu Tidore menggunakan sistem kepemimpinan orang terkuat (Layaknya hukum rimba). kemudian berevolusi menjadi sistem kepemimpinan Islam. Para pemimpin di era zaman Tidore kuno dikenal sebagai orang yang kuat (Sakti) dengan julukan Momole (Gelar pemimpin / orang kuat).

Hingga pada zaman sejarah (terbentuknya sistem kerajaan modern akibat transformasi zaman), barulah diketahui bahwa seorang pemimpin/raja bergelar Kolano. Beberapa generasi kemudian (Ketika sistem pemerintahan islam diterapkan) barulah penggunaan gelar Sultan digunakan. Berikut para pemimpin dan gelarnya yang pernah memerintah Tidore. Urutan nomor dihitung dari tercatatnya sejarah :

  1. Kolano Syahjati alias Muhammad Nakil bin Jaffar Assidiq
  2. Kolano Bosamawange
  3. Kolano Syuhud alias Subu
  4. Kolano Balibunga
  5. Kolano Duko adoya
  6. Kolano Kie Matiti
  7. Kolano Seli
  8. Kolano Matagena
  9. Kolano Nuruddin   (1334-1372)
  10. Kolano Hasan Syah  (1372-1405)
  11. Sultan Ciriliyati alias Djamaluddin (1495-1512)
  12. Sultan Al Mansur   (1512-1526) ::::::::::: Pusat pemerintahan di Kadato (Istana) Sela Waring di Rum
  13. Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen (1526-1535)
  14. Sultan Kiyai Mansur  (1535-1569)
  15. Sultan Iskandar Sani (1569-1586)
  16. Sultan Gapi Baguna  (1586 -1600)
  17. Sultan Mole Majimo alias Zainuddin  (1600-1626)
  18. Sultan Ngora Malamo alias Alauddin Syah (1626-1631) memindahkan pemerintahan dan mendirikan Kadato (Istana) Biji Negara di Toloa.
  19. Sultan Gorontalo alias Saiduddin (1631-1642)
  20. Sultan Saidi  (1642-1653)
  21. Sultan Mole Maginyau alias Malikiddin (1653-1657)
  22. Sultan Saifuddin alias Jou Kota (1657-1674) ::::::::: memindahkan pemerintahan dan mendirikan Kadato (Istana) Salero, di Limau Timore (Soasio)
  23. Sultan Hamzah Fahruddin  (1674-1705)
  24. Sultan Abdul Fadhlil Mansur (1705-1708)
  25. Sultan Hasanuddin Kaicil Garcia (1708-1728)
  26. Sultan Amir Bifodlil Aziz Muhidin Malikul Manan (1728 – 1757)
  27. Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin   1757 – 1779
  28. Sultan Patra Alam  (1780-1783)
  29. Sultan Hairul Alam Kamaluddin Asgar (1784-1797)
  30. Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati, Nuku  (1797-1805)
  31. Sultan Zainal Abidin (1805-1810)
  32. Sultan Motahuddin Muhammad Tahir (1810-1821)
  33. Sultan Achmadul Mansur Sirajuddin Syah (1821-1856) Pembangunan Kadato Kie
  34. Sultan Achmad Syaifuddin Alting (1856-1892)
  35. Sultan Achmad Fatahuddin Alting (1892-1894)
  36. Sultan Achmad Kawiyuddin Alting Alias Shah Juan (1894-1906) Setelah wafat, terjadi Masa awal konflik internal, (Kadato kie dihancurkan) hingga vakumnya kekuasaan.
  37. Sultan Zainal Abidin Syah (1947-1967) pasca wafat, vakumnya kekuasaan.
  38. Sultan Hi. Djafar Syah (1999 – 2012) Pembangunan Kadato Kie kembali

Perdebatan kepemimpinan Islam di Tidore

Berdasarkan penjelasan diatas, disebutkan bahwa Agama Islam di wilayah Kesultanan Tidore hadir setelah raja ke-sembilan memimpin (Kolano Nuruddin 1334-1372). Namun, menurut Irham Rosyidi pendapat ini masih dapat diperdebatkan. Jika penjelasan diatas benar, mengapa raja/Kolano pertama Kesultanan Tidore bernama Syahjati alias Muhammad Nakil, bukankah nama tersebut mengindikasi pengaruh agama Islam?.  Berpijak pada nama tersebut maka Irham Rosyidi berpendapat bahwa agama Islam masuk wilayah Kesultanan Tidore diduga kuat sejak raja/Kolano pertama pada tahun 1108 M.

Misteri vakumnya kesultanan Tidore di tahun 1906-1946

Sejak mangkatnya Sultan Kawiyuddin Alting alias Shah Juan di tahun 1906. Kepemimpinan sultan vakum dipimpin oleh para Bobato. 10 Tahun kemudian tepatnya pada tahun 1912. Tidore dicengangkan dengan Penyusup (Bosi ; Tidore) yang menghasut warga untuk memilihnya naik menjadi sultan. Dengan rasa tanggung-jawab inilah pihak keluarga (Dano) melaksanakan protokol adat dengan menyelamatkan “Mahkota kesultanan” agar terhindar dari malapetaka (Kejahatan pencurian maupun lainnya). Terdengar kabar, Mahkota disimpan di salah satu rumah yang dirahasiakan oleh pihak Bobato dan keluarga di kediaman Soasio.

Sumber lain

Isu lain tentang mengapa terjadi kevakuman kepemimpinan Kesultanan Tidore berasal juga dari isu tentang trik yang digencarkan pemerintah kolonial Belanda yang tidak senang jika Kesultanan Tidore terlalu aktif dan berkesinambungan. Sebab Sultan Tidore dan para bobatonya dikenal Belanda sejak dahulu sebagai suatu subjek (pelaku) yang sulit dikendalikan dan tidak bisa diajak kerja sama. Apalagi Belanda masih harus memperjuangkan Irian barat (Papua) secara statuta agar harus jatuh di tangan Belanda meski dalam statuta kesultanan Papua masih wilayah kekuasaan Tidore. Olehnya itu “Devide et impera” kembali digencarkan di internal pejabat kesultanan guna mengganggu konsentrasi Kesultanan terhadap status Irian barat.

Bergabungnya Tidore kedalam Negara kesatuan republik Indonesia

Soekarno adalah ahli politik, tapi dibalik keberingasannya ia adalah orang cerdas dan pertama yang mengubah tak tik perlawanan senjata dengan tak tik meja perundingan internasional itupun tak lain dengan amunisi andalannya “Sejarah”. Soekarno paham tentang status papua dalam koridor wilayah kesultanan Tidore. Soekarno pun paham tentang konflik internal di kesultanan Tidore. Olehnya mengapa ia begitu merasa wajib harus mempelajari sejarah Tidore terlebih dahulu. Dan baginya, sangat tak sulit menemukan Tidore (Arsip lama kesultanan – VOC) selama ia masih bersekolah di Stovia (Batavia).

Tepat Pada tanggal 14 Desember 1946 pemerintah Kesultanan Tidore diaktifkan kembali dengan dilantiknya Zainal Abidin Syah sebagai Sultan Tidore ke-37. Sultan Zainal Abidin Syah dilantik di Denpasar Bali pada tanggal 14 Desember 1946, selanjutnya disusul dengan penobatan secara adat Kerajaan Tidore pada tanggal 27 Pebruari 1947 di Limau Timore, Soasio.

Sultan Zainal Abidin Syah bersedia mengintegrasikan Kesultanan Tidore kepada Indonesia dan menolak tawaran Belanda atas integrasi (Tidore – Belanda), atas jasa beliau Soekarno tetap menghormati Sultan selaku ahli waris wilayah dan mengangkat Sultan menjadi Gubernur I (Pertama) Irian barat.

Indonesia : “Semua karna Nuku”

Sikap konsisten yang anti terhadap kolonial Belanda tersebut membuat pemerintah Republik Indonesia memberi gelar pahlawan nasional kepada Sultan ke-30, yakni Sultan Syaedul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati alias Nuku, yang memerintah 1797-1805 Masehi pula terkenal mengalahkan Belanda secara telak hingga Belanda harus mengakui wilayah Nuku pada Perjanjian Stadbland 24 Juni 1824 . Bagi Soekarno, tanpa ada pengakuan ini, mungkin sekarang Tidore bukanlah Indonesia (Dikutip dari buku karangan Irham Rosyidi, S.H., M.H. dengan judul “Eksplorasi Nilai, Asas, dan Konsep dalam Dinamika Ketatanegaraan Kesultanan Tidore”. Halaman 177-179).

Subscribe

Ikuti informasi penting, menarik dan dekat dengan kita sepanjang hari, hanya di WartaOne.co.id

No Responses

Comments are closed.