Istana Presiden Ataukah Kantor Presiden ?

“Apalah Arti Sebuah Nama”

WartaOne, Begitu sebagian orang berpendapat tentang keberadaannya. Seringkali kita mendengar pernyataan tersebut datang dari kalangan Barat (bule), dan terkadang doktrin tersebut dimakan mentah-mentah oleh sebagian kita masyarakat Timur, dan selanjutnya ikut-ikutan berpendapat jika keberadaan sebuah Nama itu memang tidak begitu penting adanya.

nanang-rama

Nanang Raman (Kepala Perwakilan WartaOne Sumatera Barat)

Anda tentu masih ingat, betapa booming-nya pemberitaan media nasional saat ini membahas persoalan berkaitan dengan “Nama”. Tampak sepintas lalu seperti persoalan sepele saja, namun sadarkah Kita jika sebenarnya hal itu dapat membawa Ekses buruk, atau bahkan fatal terhadap personal maupun orang di sekitarnya.

Ada orang yang diberi nama Tuhan. Anda bisa bayangkan, bagaimana jika orang tersebut adalah teman kelas Anda, teman sebelah Anda bilang,, heiii kamu di panggil Tuhan tuch, mati dong?

Ada yang dinamai Syatan, bayangkan jika itu adalah nama orang tua Anda, dan teman Anda bilang, ooh memang benar dia adalah anak Syatan, nah bagaimana itu..? Ada lagi yang baru, kabarnya datang dari seorang personil Kepolisian Republik Indonesia yang disebut-sebut memiliki nama “Andi Go To School”, dan kakak kandungnya si Andi ini juga punya nama yang unik, “Happy New Years” begitu pengakuan-nya dalam sebuah wawancara di salah satu Televisi nasional.

Yup Anda benar, itu sudah menjadi berita umum yang dibahas di media nasional, dan sudah menjadi komsumsi informasi masyarakat se-antero Indonesia saat ini, yaa saya setuju dengan hal itu.

Namun, Kali ini penulis tidak akan mengajak pembaca untuk membahas Penama-an Individu atau personal yang sudah lazim di bicarakan masyarakat saat ini, akan tetapi kali ini terkait dengan satu Nama Kelembaga-an Negara kita tercinta ini. Mungkin  hal ini sudah sering kali kita dengar, namun kurang menyadari tentang ketidak-Proporsionalan pemberian Nama-nya.

Yang penulis maksud disini adalah terkait dengan pe-Nama-an “Istana Presiden”, yaa tentang “Istana Presiden”.

Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar-nya? Tentu secara umum dalam fikiran Anda akan menvisualisasikan bahwa di dalamnya ada seorang Raja, yang di dampingi Ratu dengan banyak pengawalan yang super ketat. Kemudian situasinya, bayangan Anda tentu akan mendapati bahwa betapa susah dan berbelit-belitnya proses untuk Anda dapat memasuki Istana tersebut. Dan selanjutnya, tentu Anda membayangkan akan mendapat “Titah” setelah bertemu Sang Raja, dan yang tidak bisa anda tinggalkan dalam visualisasi Anda tersebut ialah tentang bagaimana nantinya Anda akan berperilaku dan kemudian Perilaku Sang Raja terhadap diri Anda.

Sebagaimana diketahui, seorang Kepala Negara itu sifat dan dasar keberadaannya persis sama sebagaimana hal-nya keberadaan Kepala Daerah di tempat Anda berada, yaa sama-sama pejabat yang di pilih secara lansung oleh rakyat-nya (Representativ), yang membedakannya hanyalah otoritas kewenagannya saja, Bupati berwenang di Daerah Tk II, atau Gubernur berwenang sebatas Provinsi saja, dan Presiden berwenang di dalam wilayah NKRI, namun apakah dengan begitu kediaman seorang Presiden atau tempat Ia bekerja patut dinamai dengan Istana Presiden?

Tujuh Puluh (70) tahun sudah Negara ini berdiri di kaki sendiri, sebagai bangsa yang merdeka, bermartabat dan berdaulat, namun kita tidak pernah mendengar akan adanya  nama “Istana Bupati”, atau nama “Istana Gubernur”, yang ada ialah Kantor Gubernur atau Kantor Bupati. Tapi kenapa yaa, ada Nama Istana Presiden, yang sebenarnya adalah tempat yang di peruntukkan sebagai Kantor Kepala Negara/Pemerintahan dalam melaksanakan tugasnya.

Anehnya nama “Istana Presiden” tersebut ikut di Amini oleh sebagian Rakyat bangsa ini, ataukah sebagai anak bangsa kita sudah termakan Doktrin Barat yang mengatakan “Apalah Arti Sebuah Nama”, hingga kita menyepelekan pe-nama-an gedung atau kantor Kepresidenan dengan Nama “Istana Presiden”.

Sadarkah, jika dengan nama itu dapat membawa dampak terhadap Kepala Negaranya itu sendiri, misalnya dalam Ia berperilaku atau dalam merealisasikan kewenangan-nya akan cenderung otoriter. Dan yang lebih penting lagi pe-nama-an tersebut sepertinya sangat In-constitusional, tidak Proporsional serta tidak patut ada di Negara Indonesia yang Kita sebut Negara hokum ini, tapi koq ada Istana-nya?

Menurut Ustadz Mansyur, Nama itu fungsi-nya adalah untuk sebuah identitas diri, dan juga sebuah harapan (Doa). Lambat laun Nama akan membentuk Karakter tersendiri sang pemiliknya.

Selanjutnya, bagaimana dengan nama “Istana Presiden/Negara”, Anda tentu dapat membayangkan, aktualisasi dari sifat serta Perilaku para penghuninya terhadap Rakyatnya. Kemudian bagaimana Anda berperilaku ketika berhadapan dengan para penghuninya? Yaa, sujud, patuh dan taat terhadap Titah sang Raja, sekalipun Anda tahu jika Titah Sang Raja tersebut salah, akan tetapi apa boleh buat, karena Anda hanyalah Rakyat biasa, dan Sang Raja tetaplah Raja yang Agung dalam Istana megah-nya, dengan ditemani Sang Ratu dan wajah sangar para pengawalnya, suka atau tidak tentu Anda akan menerima mentah-mentah dan melaksankan Titah-nya.

Masihkah Negara ini layak disebut Negara Demokrasi atau Nagara Hukum (Reechstaats), akan tetapi kenyataan-nya masih saja ada Penama-an di Kelembagaan Negara yang In-constitusional. Sudahkah sepatutnya  di adakan perubahan terhadapnya, atau Kita tetap ber-pendapat sama seperti biasa, Apalah Arti Sebuah Nama. Maka dengan begitu tidak mengherankan jika banyak terjadi di negeri ini bahwa “yang seharusnya dan yang berlaku itu sangat jauh berbeda”, atau dalam bahasa Belanda hal ini seringkali disebut Das Sein Das Solen. (Nanang Rama/rmp-red)

Subscribe

Ikuti informasi penting, menarik dan dekat dengan kita sepanjang hari, hanya di WartaOne.co.id

No Responses

Comments are closed.